Tradisi Nyeput suku Sasak
Jaga dan
Lestarikan Budaya Daerah : Tradisi Nyeput suku Sasak
Assalamuaialikum Warohmatulloh Wabarokatuh.
Semoga kita selalu dalam keadaan sehat walafiat
sehingga berkesempatan membaca kembali artikel ini.
Perjalanan saya kali ini masih berkaitan dengan
artikel yang sebelumnya yaitu mencari naskah kuno. Tapi, perjalanan saya kali
ini lebih menarik karena mencari tahu salah satu tradisi suku Sasak yang masih
ada hingga saat ini, yaitu tadisi nyeput.
Nyeput atau seput
yang berarti ‘mengambil’ adalah sebuah tradisi yang mengambil atau memilih
salah satu isi dari naskah kuno tersebut. Prosesi nyeput biasanya dilakukan oleh orang tertentu (budayawan/pemangku
adat) yang memiliki kemampuan untuk melakukan prosesi nyeput.
Dalam prosesi pembacaan (tembang) memanfaatkan naskah kuno Sasak sebagai
media utama dalam pelaksanaannya. Nyeput ini
biasanya menggambarkan tentang perjalanan hidup kita atau bisa saja sesuai
dengan apa yang kita niatkan dalam melaksanakan prosesinya. Hal inilah yang
menarik saya untuk mengetahui sekaligus mengikuti prosesi nyeput tersebut.
Perlu diketahui bersama, tidak mudah mencari
narasumber/budayawan/pemangku adat yang memiliki naskah kuno dan bisa membaca
(nembang) serta mengartikan maknanya. Penolakan pun pernah kami dapat sampai
akhirnya saya dan rekan-rekan mendapat informasi bahwa di Desa Bonjeruk,
Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah terdapat budayawan yang menurut
informan bisa melakukan ritual nyeput tersebut.
Senin, 11 Novermber 2019 saya dan delapan rekan
lainnya berangkat dari Mataram menuju alamat budayawan tersebut. Kami sampai
desa Bonjeruk sekitar pukul 17.00 Wita. Pak Hasan (narasumber) kami menuntun
kami ke rumahnya dan sesampainya di kediaman beliau kami disambut dengan hangat
dan dipersilakan duduk.
Tidak panjang lebar, kami mengutarakan maksud
kedatangan kami yaitu melakukan prosesi nyeput. Beliau kemudian menerima dan
mengarahkan kami sebelum melakukan prosesi nyeput kami harus pasang niat
bagus-bagus kemudian pejamkan mata sambil mengambil satu lembar antara naskah rengganis atau naskah juwarsah. Terdapat tiga narasumber
dimana ketiganya memiliki perannya masing-masing yakni pemaos (Pembaca), pujangge
(penerjemah) dan penyokoh (pemakna).
Tetapi dalam prosesi nyeput kali ini saya hanya mendapat dua
narasumber/budayawan dimana Pak Sahdi sebagai pemaos (Pembaca) dan Pak Hasan sebagai pujangge dan penyokoh (Penerjemah
dan pemakna).
Prosesi nyeput
dilakukan secara bergiliran sampai pada akhirnya saya mendapat giliran
tersebut. Pak Sahdi mengarahkan saya untuk memilih antara naskah kuno rengganis dan naskah kuno Juwarsah. Saya kemudian memulai dengan
membaca bismillah sambil memantapkan
niat dan memilih naskah satu lembar naskah kuno juwarsah. Pak Sahdi kemudian meberitahukan bahwa saya mendapat
tembang Sinom (muda bijak) takepan
Juwarsah. Tidak lama kemudian Pak Sahdi mulai nembang dan Pak Hasan membacakan
artinya dalam bahasa Sasak.
Berikut arti dari tembang sinom yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sasak oleh Pak Hasan:
Entah ape jage
perasaan sik marak dinde sinaraula, ndek sak putik perhatian ape unin base
dengan atau pun marak ntan penggitan. Entah ape jage unin dengan ataupun sak
lain enggakn doing taokn perhatiang sik berita sak baruk dateng. Padahal jangke
luek dengan rebut, timak leto taokn dengan rebut laguk lakik baru dateng iye
langsung demak aran Raden Juwarsah. Sampe sak aran tegel lakik ne duh kanda. Pokon
ndekn taok ape-ape pokokn ndek jak lupa.
Makna dari tembang sinom tersebut ialah bahwa
karakter saya lebih kepada fokus artinya saya fokus terhadap satu tujuan dan
sulit goyah. Apapun kata orang saya tetap maju dan tidak labil jiwanya.
Kemudian tentang urusan cinta saya bisa dibilang setia karena begitu banyak
godaan dan rintangan saya tetap setia. Mungkin saja hal itu benar. Ujar Pak
Hasan.
Dalam pemaknaannya, apapun yang beliau katakan
peraya tidak percaya itu menurut pribadi si penyeput
(saya sendiri). Karena semuanya wajib kita percayakan hanya kepada Tuhan. Hasil
nyeput tersebut bisa kita jadikan
motivasi untuk lebih baik kedepannya.
Menurut saya dalam pengkajiannya pendekatan yang
tepat digunakan adalah pendekatan semiotik yang memandang karya sastra sebagai
system tanda. Karya sastra sebagai system tanda tingkat kedua berada satu
tingkat dibawah bahasa sebagai system tanda tingkat pertama. Inti dari kontribusi
semiotik Saussure adalah rencanan bagi teori umum tentang system tanda yang
disebut semiologi. Istilah semiologi muncul diciptakan oleh Saussure sendiri
untuk menandai belum adanya ilmu pengetahuan umum tentang tanda. Semiologi
tidaklah menjadi hal yang luar biasa daripada semantik, yang mempelajari arti
dalam bahasa. Anggapan ini kemudian diperkuat dengan aspek tanda yaitu penanda
dan petanda dalam karya sastra atau naskah kuno. Kemudian ada kesepakatan yang
menyebabkan perbedaan antara bahasa yang sebenarnya dengan petanda yang ada di
dalam naskah kuno tersebut.
Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi para
pembaca.
Demikian artikel saya kali ini, kritik dan saran
yang membangun diperlukan agar penulis lebih baik lagi dalam membuat artikel.
Terimakasih.


uwuuu good job miaw๐☁️
BalasHapussemngat untuk tulisan2 berikutnyaa
Up๐
HapusSemoga bermanfaat
BalasHapusAamiin
HapusWihh keren..
BalasHapusMama mia
๐
HapusMasyaAllah informasi yg bagus bebkuh
BalasHapusSmngat laa, smoga lancar teruss. Bagus tulisannya ๐
BalasHapusMakasiii๐
HapusBermanfaat kak. Terimakasih❤
BalasHapusTerimakasi kembali ๐
HapusSomogaa semakin sukses kak karyanya ๐
BalasHapusMakasii da๐
HapusSemoga jodohku didekatkan.
BalasHapusAamiin. Semangat๐
HapusPokoknya keren wkwkw
BalasHapusKami tunggt tulisan selanjselan
BalasHapusGood job mia .. Semangat akak trus buat artikel biar yg baca juga wawasan jadi luas..๐๐.
BalasHapusSiap๐
HapusSiap๐
HapusBagus
BalasHapusDitunggu artikel-artikel selanjutnya mia
Keren kak
BalasHapusKeren banget ceritanya
BalasHapusKeren banget ceritanya
BalasHapusKerennn, ndk labil, setia, kokoh dalam satu tujuan.
BalasHapus๐๐
BalasHapusSemangat.
BalasHapusBagus bet mia
BalasHapus