Filologi
Menjaga dan Melestarikan Kebudayaan Leluhur
Setiap suku bangsa pasti memiliki tradisi
tersendiri. Kekayaan dalam setiap budaya tersimpan dalam bentuk symbol-simbol
kultural, busana tradisional, alat-alat berburu atau senjata, perlengkapan
tarian adat, bahasa serta tempat-tempat sacral, menyimpan cerita tersendiri di
setiap suku di suatu wilayah yang ada di nusantara. Budaya adalah sesuatu yang
sudah menjadi kebiasaan dan sukar untuk diubah.
Budaya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena
budaya merupakan suatu kebiasaan masyarakat setempat sukar diubah dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya, sekalipun saat ini di zaman modern atau
digitalisasi. Pada zaman modern ini telah banyak mengikis nilai kearifan local
disetiap wilayah yang ada di Indonesia. Sehingga pengaruh dari zaman ini
semakin dominan akhirnya kita lupa akan budaya kita masing-masing.
Oleh sebab itu, saya dan kawan-kawan berniat untuk
mencari pegiat-pegiat naskah kuno atau benda pusaka yang ada di wilayah Lombok,
Nusa Tenggara Barat untuk dijadikan narasumber sekaligus sebagai ajang kami
bersilaturahmi.
Pada tanggal 20 oktober 2019 saya dan kawan-kawan
mencari orang yang bernama Pak Ikin, menurut informan beliau adalah salah satu
pegiat naskah kuno dan benda pusaka yang ada di daerah Abian Tubuh, kecamatan
Sandubaya Kota Mataram. Tapi, saat kami sampai di gang rumah beliau kami
melupakan satu hal yakni membeli buah tangan, hehe namanya juga manusia tidak
luput dari khlaf dan lupa. Kami pergi sebentar untuk mencari pedagang buah dan
membelinya.
Kembali ke cerita, Pak Ikin sebutan akrabnya atau
narasumber kami adalah salah satu tokoh agama/ pemuka agama di daerah tersebut.
Beliau adalah keturunan dari raja selaparang. Di kampungnya beliau pernah
menjadi kepala lingkungan, walau sekarang sudah tidak menjabat beliau tetap
dihormati dan menjadi salah satu penjaga di kampungnya. Karena kalau kampungnya
dijaga oleh selain dari keturunannya maka kmapung itu tidak akan aman ujar
beliau.
Beliau bercerita bahwa dahulu kebangsawanan di sini
memiliki piagam kerajaan seperti peninggalan kitab-kitab lama yang telah usang
dan senjatanya. Namun, pada abad ke-19 Belanda merasa curiga kepada orang-orang
sasak dan salah satu kitab tersebut dibawa dengan dalih dipinjam oleh Belanda untuk di pelajari
kembali, bahkan ada kitab-kitab yang dimusnahkan. Sepasang kitab yang masih
tersisa kini ada di Bengkel. Sebagai bukti bahwa di daerah Lombok masih
memiliki naskah-naskah kuno yang nantinya akan dipelajari kembali.
Namun, naskah-naskah kuno yang ada di Pak Ikin
sedang dipinjam oleh seorang yang bernama pak Edi dari mambalan. Karena beliau
tidak ingat banyak isi dari naskah-naskah tersebut maka beliau menceritakan
kami sedikit tentang naskah kuno takepan sasak yaitu naskah yang ditulis di
atas daun lontar dan dirangkai menjadi satu kesatuan dengan cara diikat di
tengah. Takepan sasak biasanya menggunaan bahasa kawi dan bahasa sasak. Takepan
sasak berisikan tentang wayang Menak, kisah-kisah hikmah, ilmu pengetahuan,
keagamaan, babad, perumpamaan dan lain-lain.
Ada sebuah senjata yang masih tersimpan dan dijaga
dengan baik. Beliau menggambarkan senjata ini seperti bateq (parang). Benda pusaka ini tidak boleh sembarangan
dikeluarkan untuk dipertunjukkan kepada khalayak. Kata beliau kalau
kurang-kurang harinya maka tidak boleh dikeluarkan. Mengenai ritual adat beliau
berkata bahwa tidak pernah meakukan semacam ritual adat karena itu dianggap
syirik. Selain itu juga tidak boleh mengagungkan benda pusaka karena yang wajid
diagungkan hanyalah Allah Subhanahuwata’ala. Senjata tersebut hanya boleh
dikeluarkan bila ada petunjuk dan wasiatnya dahulu orang tua berpesan kalau
tidak perang dunia ketiga maka jangan dikeluarkan karena senjata itu
dipergunakan untuk jarak jauh, insyaallah seberapa pun banyak manusia pasti
akan musnah atau hilang nyawanya. Pernyataan tersebut harus diyakini karena
leluhur kita memang seperti itu. Jika kita tidak yakin maka kita akan di kata iwal (durhaka) kepada orang tua.
Semoga
semakin banyak anak-anak muda yang peduli dengan budaya di daerahnya agar naskah-naskah
kuno dan benda pusaka tetap terjaga dan dapat dilestarikan sebagai sumber ilmu.
Mohon maaf apabila terdapat banyak kekurangan. Dilain kesempatan saya akan
mencoba mencari tahu lagi dan membagikannya kepada kita semua. Semangat !
Kritik dan saran yang membangun akan memberikan semangat kepada penulis untuk membuat artikel yang lebih baik lagi. :)
Terimakasih


Semoga tetap melestarikan budaya-budaya yang dimiliki.
BalasHapusBagus mi, semoga bisa di kembangkan
BalasHapusSemoga lebih banyak lagi anak muda yg peduli terhadap budaya.
BalasHapusTerima kasih mia ini sangat membantu
BalasHapusKeren bngt Mia😍😍 menginspirasi👍👍
BalasHapusCeritanya bagus singkat padat dan jelas
BalasHapusTeruslah menjaga budaya kita. Terimakasih atas informasinya.
BalasHapusSaya ingat, tapi mohon dibenahi. Dahulu, saya pernah menonton dan kebetulan sekaligus menjadi dalang di acara KMHD UNRAM. Kebetulan juga mengambil lakon yang mengisahkan invasi Kerajaan Karangasem, Bali ke Pulau Lombok. Singkat cerita, akibat invasi itu, kerajaan-kerajaan di Pulau Lombok dapat ditaklukkan. Hingga beredar rumor bahwa keluarga kerajaan yang masih hidup memilih untuk "madem wangsa" atau "membumikan status sosial" untuk menghindari serangan dari Karangasem. Kaitan penjelasan saya dengan penjelasan artikel ini adalah bisa saja rumor itu benar, mengingat dalam artikel dikatakan bahwa Pak Ikin merupakan keturunan Kerajaan Selaparang. Atau mungkin saja salah, sebab di atas hanya ditulis "Pak Ikin" tanpa embel-embel status sosial.
BalasHapusTerimakasi saran dan masukannya. 😊
HapusWah, bagus sekali
BalasHapusWowwwww, kereeennnn
BalasHapusKeren-keren, saya suka sekali membaca artikel terkait kebudayaan.
BalasHapusSangt bermanfaat untuk lenih tahu peninggalan" yang ada di lombok ini. di tunggu tulisannya selanjutnyaa😊
BalasHapusbagus sekali tulisannya
BalasHapusDitunggu ya artikel-artikel berikutnya
BalasHapusNice, sangat bermanfaat
BalasHapusBermanfaat sekali tulisannya, semoga bisa terus berbagi tentang budaya ya
BalasHapusTerus berkarya dan meneelaah naskah agar tidak punah
BalasHapusKeren...Tetap semangat dan teruslh berkarya kawan🤗
BalasHapusMasyaallah luar biasa pembahasannya.. Sangat bermanfaat bagi pembaca... Di tunggu artikel sejarah berikutnya yang lebih menarik lagi.. 😊
BalasHapusuhuyy, seruu sekaliii.. sarange miaaaa❤️
BalasHapusMasyaAllah bagus sekali.
BalasHapusSangat bermanfaat.
Kerenn kak
BalasHapusSemoga kita semua bisa menjaga budaya dsn melestarikannya.
BalasHapusWah bagus! Semangat berkarya!
BalasHapusArtikelnya bermanfaat buat dijadikan refrensi untuk melestarikan kebudayaan
BalasHapusBagus sekali artikelnya😊
BalasHapusCeritanya bagus
BalasHapusSaran sy
Untuk konten nya krna terkait tentang filologi...
Mungkin hrusnya menerangkan lbh tentang naskah nya
sprt kondisi naskah, menyunting naskah nya, penelitian tentang naskah trsbt sprt apa dll
Smga bermanfaat dan maaf jika ada slah
Terimakasi komennya bang yan, next time bakal berkunkung lagi ke pegiat2 naskah untuk mengetahui lebih jauh tentang naskah kuno. 😊
HapusSmga lancar laaaah 🤙
HapusSemangat terus melestarikan budayanya ya kak
BalasHapusMasyaAllah, tetap semangat
BalasHapusMantap, sangat bermanfaat
BalasHapusSip mantab
BalasHapusNice qaqa😍 bermanfaat sekali❤
BalasHapusMantap sekali, bercerita ttg sejarah.
BalasHapusKarna sejarah memang tidak boleh dilupakan, nice kakak, ditunggu artikel selanjutnya ya
Luar biasa. Kepedulian anak muda untuk menjaga warisan budaya memang patut diacungi jempol. Sy terinspirasi dari blognya side, Mia. Well done.
BalasHapus👍👍
BalasHapus